Senin, 09 April 2012

Manusia dan Cinta Kasih

Seperti yang sudah pernah saya bahas pada postingan sebelumnya, bahwa IBD adalah ilmu yang mempelajari tentang permasalahan manusia dan kebudayaannya. Hubungan antara manusia dan cinta kasih termasuk dalam materi IBD tersebut. Karena itulah pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang manusia dan cinta kasih.

Secara umum, cinta dan kasih memiliki pengertian yang hampir sama, yaitu perasaan sangat suka, sangat senang, atau sayang sekali, dan/atau pada seseorang. Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari cinta kasih.
Cinta memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Karena sebagian besar pernikahan terlaksana atas dasar cinta. Selain itu, cinta juga merupakan sumber hubungan seorang hamba dengan Tuhan-nya sehingga manusia dapat melaksanakan perintah Tuhannya dengan iklhas.

Pada dasarnya, cinta memiliki artian yang sangan indah dan feminim. Dalam agama manapun, cinta tidak memiliki larangan sama sekali. Tetapi tentu saja ada orang-orang yang sering menyalah artikan tentang cinta, sehingga tidak sedikit cinta yang memiliki arti buruk, dan dilarang seperti :

©    Cinta kepada thangut (setan).
Cinta kepada setan disini maksudnya adalah seperti pemuja setan. Yaitu orang-orang yang menyembah sesuatu selain Tuhan, misalnya Jin, Setan, dan lain sebagainya. Pemujaan setan ini juga lebih sering disebut sebagai setanisme.

©    Cinta berdasarkan nafsu semata.
Dewasa ini, banyak orang yang menyalahartikan cinta. Tidak sedikit orang yang mengatasnamakan cinta sebagai nafsu. Padahal keduanya sangat jauh berbeda. Karena cinta merupakan perasaan sayang yang sangat manusiawi, sedangkan nafsu lebih menekankan tentang ‘keinginan’ yang kuat untuk memenuhi kepuasan semata. Cinta sejati selalu memberikan amunisi kepada nafsu, tetapi nafsu sama sekali tidak memberi amunisi pada cinta. Menurut saya pribadi, nafsu lebih melihat kearah fisik, seperti cantik atau tampannya dia, dan lain-lain. Saat seseorang mulai berumur lanjut, dan tubuhnya mulai mengalami perubahan seperti keriput, bongkok, dan lain sebagainya, pasangan yang menjalin hubungan hanya berdasarkan nafsu saja tentu tidak akan mau lagi bersama pasangannya. Tetapi dengan cinta, walaupun salah satu dari pasangannya sudah kehilangan kecantikan, ketampanan, atau yang lainnya, mereka masih tetap setia dan saling menerima. Disitulah terletak perbedaan antara cinta dan nafsu belaka.

Belakangan ini, saya sering memperhatikan pasangan-pasangan yang sama sekali belum mukhrim saling mengumbar nafsu dengan kedok ‘cinta’. Bukankah tidak sedikit pasangan yang masih berpacaran tetapi tidak ragu-ragu untuk berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, hingga melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri. Teman saya pernah berkata, “Kalau pacarmu tidak memeluk, atau menciummu, tandanya dia sama sekali tidak cinta padamu.” Atau ada juga kalimat yang sering saya dengar, “Kalau kau memang cinta padaku, buktikan dengan menciumku.” Saya langsung membantah dengan kalimat “ITU BUKAN CINTA! TETAPI HANYA NAFSU BELAKA!Tentu saja, karena yang namanya cinta tidak pernah menuntut hal semacam itu. Lagi pula menurut saya, kalau seorang laki-laki benar-benar mencintai seorang perempuan (atau sebaliknya), mereka tentu tidak ingin ‘merusak’ orang yang mereka cintai dengan hal-hal yang menimbulkan dosa besar dan kerap disebut zina itu.

©    Cinta harta dan dunia.
Cinta pada harta, maupun dunia (kehidupan) adalah salah satu sikap yang tercela. Cinta pada harta dapat menyebabkan seseorang menjadi kikir, sedangkan terlalu cinta pada dunia akan membuat seseorang menjadi takut mati, atau bahkan lalai akan kematian. Selain itu, akibat terlalu mengagung-agungkan harta, tidak sedikit orang yang mencintai harta dan dunia merusak kehidupannya sendiri, menghancurkan nama keluarga, kelompok, dan teman-temannya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Cinta pada dunia adalah pangkal dari kesalahan.” dan “Cinta pada harta dan kemuliaan akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayur-sayuran.”
.
A. CINTA MENURUT AJARAN AGAMA
©    Cinta kepada Allah
Cinta ikhlas seseorang kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya, dan menundukan kecintaannya pada yang lain. Dalam hidup ini, yang terpenting adalah mendapatkan Ridho dan Cinta dari Allah SWT. Untuk mendapatkan cinta dari Sang Maha Kuasa tersebut, terlebih dahulu kita harus mencintai Allah SWT. Karena itu, mencintai Allah adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim.
Seperti Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 165 yang berbunyi, “Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cinta pada Allah.”

©    Cinta kepada Rasul
Seorang mukmin yang benar-benar beriman setulus hati akan mencintai Rasul-nya yang telah berjuang mempertaruhkan segalanya demi menyebarkan Islam keseluruh dunia, dan membawa kita manusia dari alam yang kelam menuju alam yang penuh dengan cahaya petunjuk.
Atas besarnya jasa para Rasul, maka dari itu Allah menempatkan perintah untuk mencintai Rasul dalam urutan kedua (setelah mencintai Allah SWT).

©    Cinta Diri
Allah SWT menciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna. Kita patut bersyukur dengan salah satu caranya adalah mencintai diri sendiri. Cinta pada diri sendiri erat kaitannya dengan dorongan untuk menjaga diri. Dan sudah sepantasnya kita mencintai diri sendiri sebelum kita mulai mencintai orang lain, maupun cinta berbuat kebaikan kepada orang lain. Salah satu cara mencintai diri sendiri adalah dengan menjaga kesehatan.

©    Cinta Kepada Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, kita harus membatasi cinta pada diri sendiri dan egoisme kita. Kemudian menyeimbangkan cinta dan kasih sayangnya kepada orang lain.
Seperti hadis dari Nabi Muhammad SAW yang artinya, Tidaklah beriman seseorang diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai saudaranya sendiri." (HR. Bukhari).

©    Cinta Seksual
Cinta juga erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama suami-istri. Dorongan tersebut jugalah yang dapat melahirkan keturunan dan menciptakan keluarga.

©    Cinta Kebapakan
Cinta kebapakan dalam kisah Nabi Nuh AS yang ditulis dalam Al-Qur’an menegaskan betapa besarnya cinta Nabi Nuh kepada anaknya. Beliau terus memanggil nama anaknya dengan penuh rasa cinta sambil terus mengulurkan tangan untuk menolong anaknya naik keatas perahu agar tidak tenggelam. Tidak peduli seberapa besar anaknya menolak dan menentangnya, Nabi Nuh AS tetap saja mencintainya.
B. KASIH SAYANG
Kasih sayang memiliki makna yang luas. Setiap orang membutuhkan kasih sayang untuk jiwanya. Apapun yang terjadi, seseorang pasti ingin mencintai dan dicintai oleh orang lain. Ada bermacam-macam kasus tentang kasih sayang yang terjadi dalam kehidupan. Sebagian besar kasih sayang biasanya dicurahkan oleh orang tua. Tapi masing-masing orang tua menumpahkan kasih sayang yang berbeda-beda kepada anaknya. Ada yang berlebihan, disiplin, memberi kebebasan, dan lain-lain. Akibatnya ada yang berhasil, dan ada pula yang gagal.

Contoh dari kasih sayang yang berlebihan itu ada dalam novel Salah Asuhan karangan Abdul Muis. Dari cerita itu, kesimpulan yang kita dapat ambil adalah dengan memanjakan anak bukan berarti anak tersebut menjadi anak yang soleh dan berbakti. Sebaliknya bila sang anak tidak diberikan kasih sayang, mereka juga akan memberontak dan kemungkinan bisa melenceng ke arah yang tidak baik. Seperti kebanyakan anak-anak yang bermasalah di sekolah, ataupun preman-preman di jalanan. Sebenarnya bukan itu yang mereka inginkan. Mereka berbuat seperti itu karena ingin diperhatikan dan mendapat kasih sayang. Karena itulah, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa kasih sayang sangat dibutuhkan, terlebih lagi untuk perkembangan seorang anak.

C. KEMESRAAN
Pada dasarnya, kemesraan adalah perwujudan dari kasih sayang yang mendalam. Kemesraan dapat menimbulkan kreatifitas manusia. Dengan adanya kemesraan itu, terciptalah berbagai bentuk seni yang indah seperti drama, novel, lukisan, dan puisi.
Kemesraan juga memegang peranan penting dalam suatu hubungan. Tapi kembali lagi pada ajaran Agama yang sempat saya bahas tadi, bahwa pasangan yang belum mukhrim sama sekali dilarang untuk melakukan zina semacam bermesraan ini.

D. PEMUJAAN
Pemujaan merupakan salah satu manifestasi cinta kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Dalam agama Islam, pemujaan itu berwujud Shalat, Dzikir, Do’a, dan sebagainya. Dengan melakukan Ibadah-ibadah seperti Shalat dan sebagainya, kita dapat berkomunikasi dengan Sang Pencipta dan menunjukan kecintaan kita pada Allah yang Maha Besar. Pemujaan kepada Allah adalah bagian dari kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thanks For Reading